Isra Mikraj: Misteri Perjalanan Nabi dan Makna Shalat bagi Umat
Setiap tahun, pada tanggal 27 Rajab, yang pada tahun ini bertepatan dengan hari Jumat, 16 Januari 2026, umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa Isra Mikraj. Peristiwa ini memiliki makna yang sangat penting dan bersejarah. Pada malam itulah Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat langsung dari Allah SWT, yang kemudian diwajibkan sebanyak lima kali dalam sehari semalam. Peringatan Isra Mikraj lazim diselenggarakan di masjid-masjid, musala, pesantren, madrasah, serta berbagai ruang publik Muslim lainnya. Di luar praktik perayaan tersebut, terdapat perbedaan pandangan dan penafsiran di kalangan ulama dan cendekiawan Muslim mengenai hakikat pengalaman Isra Mikraj. Perbedaan itu berkisar pada pertanyaan apakah peristiwa tersebut dialami Nabi Muhammad SAW secara ruhani, secara jasmani, atau melalui perpaduan antara ruh dan jasad. Beragam pendapat mengenai hal ini telah banyak dikemukakan, dan masing-masing memiliki dasar pijakan teologis maupun historis yang cukup kuat. Tulisan ini berupaya menelusuri kembali berbagai pandangan tersebut sebagai bentuk ekspresi penulis dalam memperingati dan merayakan Isra Mikraj. Sebagai pengantar untuk memasuki perdebatan itu, penulis terlebih dahulu menguraikan kisah peristiwa Isra Mikraj sebagaimana terekam dalam sumber-sumber klasik.
Bersama Malaikat Jibril, Nabi Muhammad SAW menunggangi Buraq dan melesat cepat seperti anak panah, membumbung di atas pegunungan Makkah dan hamparan pasir sahara menuju ke arah utara. Dalam perjalanan tersebut, Nabi singgah di Gunung Sinai, tempat Allah SWT berbicara dengan Nabi Musa, kemudian berhenti pula di Bethlehem, tempat Nabi Isa dilahirkan, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Masjidil Aqsa (Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad [Jakarta: Litera AntarNusa, 2003], 153). Dari Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW kembali menunggangi Buraq untuk melakukan mikraj, terbang ke atas bersama Malaikat Jibril, melampaui batas ruang, waktu, dan bentuk lahiriah bumi, menembus tujuh lapis langit. Dalam perjalanan ini, Nabi berjumpa kembali dengan para nabi yang sebelumnya shalat bersamanya di Yerusalem, namun kali ini mereka hadir dalam wujud ruhani, sebagaimana mereka pun melihat Nabi dalam keadaan yang sama (Martin Lings, Muhammad, hlm. 156). Di langit pertama, Nabi bertemu dengan Nabi Adam yang menyambut dan memberi penghormatan kepadanya. Pada enam lapisan langit berikutnya, Nabi bertemu dengan para nabi lain, seperti Nabi Nuh, Nabi Harun, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Idris, Nabi Yahya, dan Nabi Isa. Langit ketujuh digambarkan sebagai tempat manusia-manusia yang bertindak adil (Sejarah Hidup Muhammad, hlm. 154). Puncak perjalanan mikraj Nabi Muhammad SAW adalah Sidratul Muntaha. Di tempat inilah beliau menerima perintah shalat sebanyak lima puluh kali dalam sehari semalam bagi umatnya. Dalam perjalanan turun, Nabi bertemu dengan Nabi Musa yang menyarankan agar beliau kembali memohon keringanan, karena umat Nabi Muhammad tidak akan sanggup melaksanakan kewajiban sebanyak itu (hlm. 154–155). Nabi Muhammad SAW kemudian berulang kali kembali menghadap Allah SWT hingga jumlah shalat akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu sehari semalam. Nabi bersabda bahwa ia merasa malu untuk kembali memohon setelah beberapa kali menghadap Tuhannya, dan menerima ketentuan tersebut sebagai keputusan terakhir (hlm. 157–158). Setelah itu, Nabi dan Malaikat Jibril turun kembali ke Yerusalem, lalu kembali ke Makkah dengan melewati sejumlah kafilah yang bergerak ke arah selatan. Ketika Nabi tiba di Ka’bah, hari masih malam, dan beliau kemudian kembali ke rumah Umm Hani’, tempat beliau bermalam (Muhammad, 158). Isra Mikraj: Ruhani atau Jasmani? Spiritual atau Faktual? Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, terdapat beragam pandangan dalam memaknai dan menafsirkan peristiwa Isra Mikraj. Salah satu pandangan menyatakan bahwa Isra Mikraj dialami oleh Nabi Muhammad SAW sebagai pengalaman ruhani. Pandangan ini antara lain merujuk pada pernyataan Ummu Hani’, yang meriwayatkan pengalaman Nabi pada malam tersebut. Ummu Hani’ menuturkan bahwa pada malam itu Rasulullah SAW bermalam di rumahnya. Setelah melaksanakan shalat malam, Nabi beristirahat bersama mereka. Menjelang fajar, Nabi membangunkan mereka dan setelah menunaikan shalat Subuh berjamaah, beliau berkata bahwa ia telah melaksanakan shalat malam bersama mereka di Makkah, kemudian pergi ke Baitul Maqdis dan shalat di sana, lalu kembali untuk shalat pagi bersama mereka. Ketika Ummu Hani’ menyarankan agar kisah itu tidak disampaikan kepada orang lain karena dikhawatirkan akan menimbulkan penolakan dan gangguan, Nabi menjawab bahwa peristiwa itu tetap harus disampaikan kepada umat (Sejarah Hidup Muhammad, hlm. 151–152; Muhammad, hlm. 158). Pandangan bahwa Isra Mikraj merupakan pengalaman ruhani juga diriwayatkan dari Aisyah RA. Ia menyatakan bahwa jasad Rasulullah SAW tidak pernah hilang, melainkan Allah SWT memperjalankan Isra tersebut melalui ruh Nabi. Pendapat serupa disampaikan oleh Mu‘awiyah bin Abi Sufyan ketika ia ditanya tentang peristiwa Isra Mikraj. Ia menyebutkan bahwa peristiwa tersebut merupakan mimpi yang benar dari Allah SWT. Pendapat ini diperkuat oleh sebagian orang dengan merujuk pada firman Allah tentang mimpi yang dijadikan sebagai ujian bagi manusia (Sejarah Hidup Muhammad, hlm. 152). Di sisi lain, terdapat pula pandangan yang menyatakan bahwa Isra Mikraj dialami Nabi Muhammad SAW dengan ruh dan jasad sekaligus. Pandangan ini antara lain disampaikan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq. Dikisahkan bahwa setelah shalat Subuh, Nabi menceritakan kepada orang-orang di Masjid tentang perjalanannya ke Yerusalem. Kaum Quraisy segera menjadikan kisah tersebut sebagai bahan ejekan, karena perjalanan Makkah–Syam pada masa itu memerlukan waktu berbulan-bulan, sementara Nabi mengaku telah melakukannya dalam satu malam. Sekelompok orang Quraisy kemudian mendatangi Abu Bakar dan menanyakan pendapatnya tentang pernyataan Nabi tersebut. Abu Bakar menjawab dengan tegas bahwa jika Nabi mengatakan demikian, maka itu adalah kebenaran. Ia bahkan mengulang pernyataannya di hadapan orang banyak. Atas sikap inilah Nabi Muhammad SAW memberinya gelar ash-Shiddiq, yakni orang yang membenarkan dan menyaksikan kebenaran (Muhammad, 159). Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai apakah Isra Mikraj dialami Nabi Muhammad SAW dengan ruh dan jasad, atau dengan ruh saja, esensi terpenting dari peristiwa ini bagi umat Islam adalah pesan yang dikandungnya. Pesan itu adalah kewajiban melaksanakan shalat lima waktu sebagai asupan ruhani yang menopang inti kemanusiaan, di samping aspek fisik atau jasad. Shalat menjadi media komunikasi paling intim antara manusia dan Allah SWT, tempat kembali dan pulang yang paling sejati. Lebih jauh, peristiwa Isra Mikraj mengingatkan bahwa keimanan kepada Allah SWT tidak semata-mata berada dalam wilayah akal dan rasio. Ia juga menyentuh wilayah ruhani, yang tidak selalu dapat, dan tidak selalu perlu dijelaskan secara rasional. Seperti halnya cinta, pengalaman ruhani bersifat batiniah, mendalam, dan hanya dapat sepenuhnya dipahami oleh mereka yang mengalaminya. Lantas, apakah Nabi Muhammad SAW mengalami Isra Mikraj dengan ruh dan jasad, atau hanya dengan ruhnya saja? Jawaban yang paling jujur barangkali adalah bahwa hanya Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT yang mengetahui hakikatnya secara pasti, karena Nabi sendiri yang mengalaminya. Kita sebagai umat yang mencintainya hanya dapat menafsirkan peristiwa tersebut dalam dua kemungkinan, yang keduanya bisa benar atau salah, namun tetap bermakna dan berguna bagi manusia yang beriman. Wallahu a'lam. Neng Dara Affiah, sosiolog, dosen, penulis, terlibat aktif dalam kerja-kerja keagamaan dan kebudayaan serta kerja-kerja hak-hak asasi manusia, khususnya hak-hak asasi perempuan.
Sumber: https://islam.nu.or.id/sirah-nabawiyah/isra-mikraj-misteri-perjalanan-nabi-dan-makna-shalat-bagi-umat-i9KVF
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Mengenal Kecerdasan Buatan (AI): Pengertian, Manfaat, dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari
Apa Itu Kecerdasan Buatan? Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI) adalah teknologi yang memungkinkan komputer dan mesin untuk mensimulasikan pembelajaran manusia, pemahama
SMK (Sekolah Menengah Kejuruan)
SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) adalah jenjang pendidikan menengah formal yang fokus pada pendidikan kejuruan untuk mempersiapkan lulusan siap kerja atau wiraswasta, berbeda dengan
Pondok Pesantren
Pondok Pesantren (Ponpes) adalah lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia yang berbasis masyarakat, menawarkan pendidikan agama (seperti studi Al-Qur'an, Hadis, Fiqih) dan
Apa itu WiFi 7 ? Cara Kerja dan Kelebihannya
WiFi 7 adalah teknologi nirkabel penerus dari WiFi 6 dan 6E (802.11ax) dan pertama kali diperkenalkan ke publik pada Januari 2024. WiFi generasi ke- 7 berbasis standar IEEE 802.11 menye
